Matamu nyalang pada yang mati di punggung hujan
Mengeja nafas kita yang terkubur satu-satu
"Ini dulu milik kita." Katamu. Sembari menatap kapal-kapal yang labuhkan ribuan jalang
Lalu kau bercerita pada anak cucu
Tentang dadamu yang tertimbun peluru
Tentang doa-doa di punggung hujan
Rabu, 25 Januari 2012
Geng Ember Toilet
Joko terus saja
terpingkal mengingat pelariannya melewati comberan samping pasar. Begitu
pula dengan Ucup dan aku yang membuat berantakan sayur-sayuran Bi Inah.
Kami bertiga tertawa lepas setelah lolos dari pengejaran penjaga toilet
umum. Jarang kami bisa tertawa seperti ini, mengingat acara komedi
hanya ada di televisi dalam rumah-rumah. Dan badut-badut tak bisa
dijumpai di sela ban-ban karet angkot tua dan riuh lorong pasar.
Sedikit merepotkan memang, membuat kami tak sempat mencari ember toilet seperti biasa untuk makan pagi ini. Tapi tak apa, karena lapar-lapar telah terbayar dengan sebuah tawa. Dan kami masih tertawa sepanjang pinggiran jalan menuju terminal yang letaknya tidak jauh dari pasar. Senang rasanya punya cerita hari ini, mengingat cerita dan dongeng-dongeng hanya ada di buku dalam sekolah-sekolah. Dan pembaca cerita tidak ada di tempat kami hidup dan dibesarkan : Jalanan.
Joko, Ucup, dan aku Galih. Kami bertiga. Bocah pemulung belasan tahun penghuni sesak kota. Panggil saja kami Geng Ember Toilet. Pasukan penggasak ember toilet. Ember yang masih bagus dalam toilet umum pun kami injak-injak kemudian masuk ke dalam karung kecil bersama kardus, botol minuman, dan barang-barang rongsokan lain. Tapi ember toilet adalah favorit kami, karena tak perlu bersusah-payah mengorek-ngorek sampah untuk mengisi lapar kami.
Mungkin Joko yang tertua di antara kami, melihat perawakannya yang paling bongsor. Dia juga yang paling penakut, karena setiap beraksi dalam menggasak ember toilet dia selalu berada di garis belakang, dan terdepan dalam pelarian. Tapi tak apa, toh kami saudara, sama-sama diasuh karung rongsokan dan makian kotor bahkan tamparan penjaga toilet yang memergoki aksi kami. Dan jangan bertanya dimana halaman kampungnya, karena akan keluar jawaban berbeda untuk setiap pertanyaan yang sama.
Lain lagi Ucup, si tengil beringas yang mudah diserang amarah. Dan yang paling sering mendapat luapan kemarahannya adalah Joko. Dalam setiap perburuan ember toilet, Joko selalu kena omelan karena kelambanannya. Ucup merupakan buronan ibu tiri yang telah membesarkannya, setelah minggat dengan membawa uang dan sedikit perhiasan. Dia pula yang paling memendam dendam kepada para penjaga-penjaga toilet. "Kalau aku sudah besar nanti akan kuhajar mereka satu-satu." Katanya.
Ya. Kami bertiga. Dan aku, Galih, akan selalu berada di antara mereka berdua. Kami biasa tidur di pasar atau bangku-bangku terminal. Tak masalah bagi kami karena dingin telah terusir debu jalanan dan bau kecut keringat calo terminal. Jangan tanya cita-cita pada kami karena keinginan terbesar kami adalah bertahan hidup untuk hari ini. Biar waktu yang menjawab nasib kami esok hari.
***
Kami kembali beraksi. Ember toilet umum terminal yang seminggu lalu kami curi kini telah diganti yang baru, itulah yang kami incar. Setelah berunding dan mengatur siasat, akhirnya diputuskan aku berada di garis terdepan, Ucup bertugas membawa hasil curian nantinya, dan Joko mengawasi keadaan. Dengan langkah yakin penuh kemenangan kami pun merapat menuju sasaran.
Kesempatan emas. Penjaga toilet tampak sedang minum kopi di warung terminal. Aku pun masuk dari arah samping toilet. Melihat ember baru dari balik pintu toilet yang terbuka seakan tumpukan harta karun bagiku. Begitu menggiurkan. Kupercepat langkah dengan tergesa. Ucup mengikuti dari belakang dengan memegang karung kecil lusuh. Dengan mata liar Joko mengawasi sekeliling.
Bibir ember kupegang, kuraba pantatnya yang mulus, kumiringkan, dan dengan sekali injak ember terpecah menjadi beberapa bagian. Ucup kemudian bergerak cepat memasukkannya ke dalam karung. Kulirik Joko yang mengangkat jempol kode keadaan masih aman. Dan.. Masuklah ember ke dalam karung oleh tangan mungil Ucup tanda kesuksesan aksi kami telah di depan mata.
"Hey.. Maling cilik..!" Teriak Entah siapa yang tanpa kami sadari keluar dari kamar toilet sebelah kiri. Kami bertiga lari berhamburan tunggang langgang lintang pukang. Penjaga toilet yang mendengar kegaduhan segera mengejar karena sudah cukup geram dengan beberapa kali aksi kami. Kami bertiga melarikan diri berpencar. Tapi naas bagi Ucup, entah kenapa penjaga toilet memilih mengejarnya.
"Maling.. Maling..!" Teriak penjaga toilet sembari mengejar Ucup yang berlari menuju seberang jalan. Ikut mengejar pula supir, kernet, dan calo terminal.
Bruk..!
Tiba-tiba saja sebuah mobil yang melaju kencang menabrak Ucup yang sedang berlari menyeberangi jalan. Dia terpental beberapa meter. Orang-orang di sekitar riuh. Aku tercekat melihat dari kejauhan. Ucup diam terkapar. Darahnya menggenangi pinggiran jalan. Dan karung kecil lusuh berisi ember toilet masih erat digenggamnya, sebagai saksi sebuah kematian karena keadaan yang tak berpihak pada nasib jalanan.
Kota terasa begitu kejam bagi perut yang lapar. Ya. Ucup mati. Tidak ada yang sejenak menundukkan kepala kecuali ban-ban karet angkot tua dan riuh lorong pasar. Tidak ada yang untuk sebentar saja serupa dihimpit gedung-gedung tinggi kecuali aku dan Joko. Kini tinggal kami berdua. Entahlah, biar waktu yang menjawab nasib kami esok hari. Karena ember toilet tetap menjadi piring nasi bocah pemulung seperti kami.
Sedikit merepotkan memang, membuat kami tak sempat mencari ember toilet seperti biasa untuk makan pagi ini. Tapi tak apa, karena lapar-lapar telah terbayar dengan sebuah tawa. Dan kami masih tertawa sepanjang pinggiran jalan menuju terminal yang letaknya tidak jauh dari pasar. Senang rasanya punya cerita hari ini, mengingat cerita dan dongeng-dongeng hanya ada di buku dalam sekolah-sekolah. Dan pembaca cerita tidak ada di tempat kami hidup dan dibesarkan : Jalanan.
Joko, Ucup, dan aku Galih. Kami bertiga. Bocah pemulung belasan tahun penghuni sesak kota. Panggil saja kami Geng Ember Toilet. Pasukan penggasak ember toilet. Ember yang masih bagus dalam toilet umum pun kami injak-injak kemudian masuk ke dalam karung kecil bersama kardus, botol minuman, dan barang-barang rongsokan lain. Tapi ember toilet adalah favorit kami, karena tak perlu bersusah-payah mengorek-ngorek sampah untuk mengisi lapar kami.
Mungkin Joko yang tertua di antara kami, melihat perawakannya yang paling bongsor. Dia juga yang paling penakut, karena setiap beraksi dalam menggasak ember toilet dia selalu berada di garis belakang, dan terdepan dalam pelarian. Tapi tak apa, toh kami saudara, sama-sama diasuh karung rongsokan dan makian kotor bahkan tamparan penjaga toilet yang memergoki aksi kami. Dan jangan bertanya dimana halaman kampungnya, karena akan keluar jawaban berbeda untuk setiap pertanyaan yang sama.
Lain lagi Ucup, si tengil beringas yang mudah diserang amarah. Dan yang paling sering mendapat luapan kemarahannya adalah Joko. Dalam setiap perburuan ember toilet, Joko selalu kena omelan karena kelambanannya. Ucup merupakan buronan ibu tiri yang telah membesarkannya, setelah minggat dengan membawa uang dan sedikit perhiasan. Dia pula yang paling memendam dendam kepada para penjaga-penjaga toilet. "Kalau aku sudah besar nanti akan kuhajar mereka satu-satu." Katanya.
Ya. Kami bertiga. Dan aku, Galih, akan selalu berada di antara mereka berdua. Kami biasa tidur di pasar atau bangku-bangku terminal. Tak masalah bagi kami karena dingin telah terusir debu jalanan dan bau kecut keringat calo terminal. Jangan tanya cita-cita pada kami karena keinginan terbesar kami adalah bertahan hidup untuk hari ini. Biar waktu yang menjawab nasib kami esok hari.
***
Kami kembali beraksi. Ember toilet umum terminal yang seminggu lalu kami curi kini telah diganti yang baru, itulah yang kami incar. Setelah berunding dan mengatur siasat, akhirnya diputuskan aku berada di garis terdepan, Ucup bertugas membawa hasil curian nantinya, dan Joko mengawasi keadaan. Dengan langkah yakin penuh kemenangan kami pun merapat menuju sasaran.
Kesempatan emas. Penjaga toilet tampak sedang minum kopi di warung terminal. Aku pun masuk dari arah samping toilet. Melihat ember baru dari balik pintu toilet yang terbuka seakan tumpukan harta karun bagiku. Begitu menggiurkan. Kupercepat langkah dengan tergesa. Ucup mengikuti dari belakang dengan memegang karung kecil lusuh. Dengan mata liar Joko mengawasi sekeliling.
Bibir ember kupegang, kuraba pantatnya yang mulus, kumiringkan, dan dengan sekali injak ember terpecah menjadi beberapa bagian. Ucup kemudian bergerak cepat memasukkannya ke dalam karung. Kulirik Joko yang mengangkat jempol kode keadaan masih aman. Dan.. Masuklah ember ke dalam karung oleh tangan mungil Ucup tanda kesuksesan aksi kami telah di depan mata.
"Hey.. Maling cilik..!" Teriak Entah siapa yang tanpa kami sadari keluar dari kamar toilet sebelah kiri. Kami bertiga lari berhamburan tunggang langgang lintang pukang. Penjaga toilet yang mendengar kegaduhan segera mengejar karena sudah cukup geram dengan beberapa kali aksi kami. Kami bertiga melarikan diri berpencar. Tapi naas bagi Ucup, entah kenapa penjaga toilet memilih mengejarnya.
"Maling.. Maling..!" Teriak penjaga toilet sembari mengejar Ucup yang berlari menuju seberang jalan. Ikut mengejar pula supir, kernet, dan calo terminal.
Bruk..!
Tiba-tiba saja sebuah mobil yang melaju kencang menabrak Ucup yang sedang berlari menyeberangi jalan. Dia terpental beberapa meter. Orang-orang di sekitar riuh. Aku tercekat melihat dari kejauhan. Ucup diam terkapar. Darahnya menggenangi pinggiran jalan. Dan karung kecil lusuh berisi ember toilet masih erat digenggamnya, sebagai saksi sebuah kematian karena keadaan yang tak berpihak pada nasib jalanan.
Kota terasa begitu kejam bagi perut yang lapar. Ya. Ucup mati. Tidak ada yang sejenak menundukkan kepala kecuali ban-ban karet angkot tua dan riuh lorong pasar. Tidak ada yang untuk sebentar saja serupa dihimpit gedung-gedung tinggi kecuali aku dan Joko. Kini tinggal kami berdua. Entahlah, biar waktu yang menjawab nasib kami esok hari. Karena ember toilet tetap menjadi piring nasi bocah pemulung seperti kami.
Gudang Senjata
Ini jalanan Bung!
Bukan hotel, gedung, plaza dan bandara
Hanya asap knalpot dan keringat bejat bau cuka
Berserak botol arak berandal kota
Ini kejam Bung!
Di tong sampah ada bayi
Mayat dalam kereta pagi
Korban nafsu biadab yang enyahkan harga diri
Dan kita Bung..
Sekarat dihimpit hotel, gedung, plaza, dan bandara
Karena cinta telah mati bunuh diri.
Bukan hotel, gedung, plaza dan bandara
Hanya asap knalpot dan keringat bejat bau cuka
Berserak botol arak berandal kota
Ini kejam Bung!
Di tong sampah ada bayi
Mayat dalam kereta pagi
Korban nafsu biadab yang enyahkan harga diri
Dan kita Bung..
Sekarat dihimpit hotel, gedung, plaza, dan bandara
Karena cinta telah mati bunuh diri.
Orang-orang Jalanan
Kami yang bernafas dari sikut licik tak perduli
Menyulam trotoar belantara kini
Di antara tumpukan kardus bekas dan ikan Teri
Kami yang sembunyi di ketiak para kurcaci
Lelap dihimpit bus way dan metro mini
Karena bestari tidak di sini
Kami yang berdiri tanpa panji-panji
: Menunggu mati
Menyulam trotoar belantara kini
Di antara tumpukan kardus bekas dan ikan Teri
Kami yang sembunyi di ketiak para kurcaci
Lelap dihimpit bus way dan metro mini
Karena bestari tidak di sini
Kami yang berdiri tanpa panji-panji
: Menunggu mati
Sepak Terjang Tarjo
"Jo.. Cepet cari istri to.. Bapakmu ini sudah kebelet kepingin punya cucu".
"Bapak ini ngomongnya mbok jangan itu terus to..!".
"Lo wajar to Jo. Umurmu sudah kepala tiga lo? Ndak perlu cantik cantik, yang penting bisa masak, nyuci, bikin kopi tubruk, ndak cerewet. Sukur sukur hidungnya mancung, tidak ya ndak apa apa, yang penting ndak jerawatan".
"Opo to Bapak iki?"
"Seperti Ibumu itu lo Jo, sederhana tapi bersahaja".
Kalau mau jujur, Tarjo pun tak tahan dengan kesendirian. Hmm.. Lagi lagi ingatannya tertuju pada Maesaroh, mantan pacar
"Bapak ini ngomongnya mbok jangan itu terus to..!".
"Lo wajar to Jo. Umurmu sudah kepala tiga lo? Ndak perlu cantik cantik, yang penting bisa masak, nyuci, bikin kopi tubruk, ndak cerewet. Sukur sukur hidungnya mancung, tidak ya ndak apa apa, yang penting ndak jerawatan".
"Opo to Bapak iki?"
"Seperti Ibumu itu lo Jo, sederhana tapi bersahaja".
Kalau mau jujur, Tarjo pun tak tahan dengan kesendirian. Hmm.. Lagi lagi ingatannya tertuju pada Maesaroh, mantan pacar
Langganan:
Postingan (Atom)