Kami yang bernafas dari sikut licik tak perduli
Menyulam trotoar belantara kini
Di antara tumpukan kardus bekas dan ikan Teri
Kami yang sembunyi di ketiak para kurcaci
Lelap dihimpit bus way dan metro mini
Karena bestari tidak di sini
Kami yang berdiri tanpa panji-panji
: Menunggu mati
Rabu, 25 Januari 2012
Sepak Terjang Tarjo
"Jo.. Cepet cari istri to.. Bapakmu ini sudah kebelet kepingin punya cucu".
"Bapak ini ngomongnya mbok jangan itu terus to..!".
"Lo wajar to Jo. Umurmu sudah kepala tiga lo? Ndak perlu cantik cantik, yang penting bisa masak, nyuci, bikin kopi tubruk, ndak cerewet. Sukur sukur hidungnya mancung, tidak ya ndak apa apa, yang penting ndak jerawatan".
"Opo to Bapak iki?"
"Seperti Ibumu itu lo Jo, sederhana tapi bersahaja".
Kalau mau jujur, Tarjo pun tak tahan dengan kesendirian. Hmm.. Lagi lagi ingatannya tertuju pada Maesaroh, mantan pacar
"Bapak ini ngomongnya mbok jangan itu terus to..!".
"Lo wajar to Jo. Umurmu sudah kepala tiga lo? Ndak perlu cantik cantik, yang penting bisa masak, nyuci, bikin kopi tubruk, ndak cerewet. Sukur sukur hidungnya mancung, tidak ya ndak apa apa, yang penting ndak jerawatan".
"Opo to Bapak iki?"
"Seperti Ibumu itu lo Jo, sederhana tapi bersahaja".
Kalau mau jujur, Tarjo pun tak tahan dengan kesendirian. Hmm.. Lagi lagi ingatannya tertuju pada Maesaroh, mantan pacar
Jumat, 02 Desember 2011
MENUNGGU MATI
Gambar diambil dari sini
Aku akan bercerita. Tak menarik dan lazim yang akan kuceritakan. Membosankan, monoton, atau entah komentar apalagi yang bisa kau berikan sebagai ahli cerita sepertimu. Tapi ini cuma cerita, tak perlu sekolah sastra untuk bercerita. Anak kecil pun biasa bercerita bermacam hal, petani sampai berbuih mulut menceritakan cara bercocok tanam, pandai bukan kepalang cerita nelayan tentang sauh dan kapal.
Ini bukan cerita tentang cinta atau semacamnya, karena hingga kini sudah hampir berkalang tanah pun aku masih sendiri. Ini tentangku, pengemis tua yang berharap untuk segera mati
Rumahku trotoar simpang jalan, beratap terik matahari dan sinis malam, dindingnya angkuh keras kehidupan. Tapi tak perlu kau cabik aku dengan matamu yang memandang iba, karena aku sudah cukup tersiksa dengan sebuah harapan dan mimipi, berharap untuk segera mati.
Kamis, 01 Desember 2011
WARAKA
Gambar diambil dari sini
Di kampungku, bunga-bunga terbuat dari mutiara dengan kelopak jingga, air comberan berupa susu dan madu, dan pohon tebu-tebu adalah emas berbentuk menara. Lalu jalan setapak yang dilalui domba-domba berupa kasur, sofa, dan hamparan biji kurma. Sedangkan rumah-rumah di sela pegunungan kabut terbuat dari anyaman roti dengan atap kayu cendana berwarna merah muda.
Kami makan dari tumbuhan madu yang berada di atas punggung pegunungan kabut, yang diambil oleh capung dan kupu-kupu kemudian dibagikan kepada seluruh warga desa. Setiap senja anak-anak harimau dan serigala juga menemani kami memancing, merawat padi, dan ikut bermain bola dan layang-layang ikan.
Hal itu belum lama memang, tepatnya semenjak kedatangan Dewi Cendana dari negeri di atas awan, yang kemudian turun ke bumi karena jatuh cinta kepada salah satu pemuda desa kami. Sebut saja Waraka,
Langganan:
Postingan (Atom)


